LAPORAN UTAMA
 
Ambang Batas Melek Pendidikan
 
Januari  2008

PILAR pendukung suksesnya pembelajaran sampai sejauh ini masih pincang. Ada tiga pilar untuk mendukung suksesnya pembelajaran, orangtua, guru, dan siswa. Ketiganya harus sinergi, tidak boleh ada yang lemah. Guru menempatkan dirinya pada peran sebagai pendorong siswanya untuk lebih kreatif dan mandiri. Demikian juga, orangtua di rumah juga berkewajiban mendorong anaknya untuk lebih dewasa dan mandiri.

Namun, ketiganya masih belum sinergi. Apa penyebabnya, karena masih belum terjadi komunikasi antara guru dengan orangtua siswa. Apa yang telah disampaikan di sekolah oleh guru, banyak orangtua yang tidak mengerti. Apa yang tidak dimengerti oleh anaknya di sekolah, orangtua tidak banyak paham. Inilah yang paling mendesar yang harus dibenahi untuk menciptakan keseimbangan tiga pilar utama penyokong suksesnya pendidikan.

Sebagian besar orangtua dalam sepuluh tahun terakhir sebenarnya telah memiliki semangat tinggi untuk mencerdaskan anak-anaknya melalui bangku sekolah. Namun terkadang, semangat orangtua putus di tengah jalan, karena tidak memahami sama sekali perkembangan anak didiknya. Ambang batas melek pendidikan bakal menjadi sebuah kenyataan.

Artinya, satu sisi orangtua sudah sadar tentang pentingnya pendidikan buat anak-anaknya, tapi satu sisi mereka tidak bisa melakukan komunikasi, apa yang harus dilakukan orangtua terhadap anak-anaknya. Bisa juga dimaknai, ambang batas melek pendidikan, sebagai bentuk kesadaran yang masih dalam angan-angan. Orang sadar pentingnya pendidikan anak-anaknya, tapi orangtua jarang atau bahkan tidak pernah mendampingi belajar anaknya saat di rumah. Sebaliknya, pendidikan hanya diserahkan kepada guru di sekolah. Ironis memang.

Dalam laporan utama kali ini, Duta Cendekia sengaja mengupas tentang tiga pilar penyokong pendidikan itu. Harapannya, ada kesadaran baru untuk menciptakan pendidikan yang sinergi dan menghasilkan output yang luar biasa.

Untuk edisi ini, kami menyebar sedikitnya 50 angket yang berisi tentang pertanyaan-pertanyaan seputar tanggungjawab orangtua terhadap anaknya dalam pendidikan. Bagaimana seorang ibu yang sekarang disibukkan dengan pekerjaan luar, mampu mendampingi anak-anaknya atau tidak?.

Begitu pula, bagaimana seorang ayah yang sudah sibuk di kantor dan pulang ke rumah sudah dalam keadaan capek, mampu mendampingi anak-anaknya untuk belajar.

Selain itu, juga didukung dengan sejumlah penelitian dari sejumlah negara maju terkait pentingnya orangtua dalam mendampingi keseharian anak-anaknya, terutama peran ayah.

Ini penting disampaikan, sebagai perbandingan hasil survey yang dilakukan tim Duta Cendekia dengan hasil penelitian di sejumlah negara maju. Apakah ketidakhadiran seoarang ayah atau ibu sangat berpengaruh terhadap prilaku anak-anaknya saat dewasa nanti. Itulah yang bakal dikupas dalam laporan utama ini.

<>