|
PILAR pendukung suksesnya pembelajaran sampai
sejauh ini masih pincang. Ada tiga pilar untuk
mendukung suksesnya pembelajaran, orangtua, guru,
dan siswa. Ketiganya harus sinergi, tidak boleh
ada yang lemah. Guru menempatkan dirinya pada
peran sebagai pendorong siswanya untuk lebih
kreatif dan mandiri. Demikian juga, orangtua di
rumah juga berkewajiban mendorong anaknya untuk
lebih dewasa dan mandiri.
Namun, ketiganya masih belum sinergi. Apa
penyebabnya, karena masih belum terjadi komunikasi
antara guru dengan orangtua siswa. Apa yang telah
disampaikan di sekolah oleh guru, banyak orangtua
yang tidak mengerti. Apa yang tidak dimengerti
oleh anaknya di sekolah, orangtua tidak banyak
paham. Inilah yang paling mendesar yang harus
dibenahi untuk menciptakan keseimbangan tiga pilar
utama penyokong suksesnya pendidikan.
Sebagian besar orangtua dalam sepuluh tahun
terakhir sebenarnya telah memiliki semangat tinggi
untuk mencerdaskan anak-anaknya melalui bangku
sekolah. Namun terkadang, semangat orangtua putus
di tengah jalan, karena tidak memahami sama sekali
perkembangan anak didiknya. Ambang batas melek
pendidikan bakal menjadi sebuah kenyataan.
Artinya, satu sisi orangtua sudah sadar tentang
pentingnya pendidikan buat anak-anaknya, tapi satu
sisi mereka tidak bisa melakukan komunikasi, apa
yang harus dilakukan orangtua terhadap
anak-anaknya. Bisa juga dimaknai, ambang batas
melek pendidikan, sebagai bentuk kesadaran yang
masih dalam angan-angan. Orang sadar pentingnya
pendidikan anak-anaknya, tapi orangtua jarang atau
bahkan tidak pernah mendampingi belajar anaknya
saat di rumah. Sebaliknya, pendidikan hanya
diserahkan kepada guru di sekolah. Ironis memang.
Dalam laporan utama kali ini, Duta Cendekia
sengaja mengupas tentang tiga pilar penyokong
pendidikan itu. Harapannya, ada kesadaran baru
untuk menciptakan pendidikan yang sinergi dan
menghasilkan output yang luar biasa.
Untuk edisi ini, kami menyebar sedikitnya 50
angket yang berisi tentang pertanyaan-pertanyaan
seputar tanggungjawab orangtua terhadap anaknya
dalam pendidikan. Bagaimana seorang ibu yang
sekarang disibukkan dengan pekerjaan luar, mampu
mendampingi anak-anaknya atau tidak?.
Begitu pula, bagaimana seorang ayah yang sudah
sibuk di kantor dan pulang ke rumah sudah dalam
keadaan capek, mampu mendampingi anak-anaknya
untuk belajar.
Selain itu, juga didukung dengan sejumlah
penelitian dari sejumlah negara maju terkait
pentingnya orangtua dalam mendampingi keseharian
anak-anaknya, terutama peran ayah.
Ini penting disampaikan, sebagai perbandingan
hasil survey yang dilakukan tim Duta Cendekia
dengan hasil penelitian di sejumlah negara maju.
Apakah ketidakhadiran seoarang ayah atau ibu
sangat berpengaruh terhadap prilaku anak-anaknya
saat dewasa nanti. Itulah yang bakal dikupas dalam
laporan utama ini.
|